Tidak tampak..bukan berarti tidak ada..

Monday, March 17, 2008

Tebing tak tampak, jurang tak tampak

(Taufiq Ismail)

Untuk Anak-anak Muda Sineas,
Yang Ingin Bebas Tanpa Batas

Di tepi desa kami ada sebuah tebing yang curam
Menghadap ke jurang yang dalam
Di atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnya
Disana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasa
Berkejar-kejaran, melompat-lompat kesini dan kesana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa

Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana
Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur didasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuninya
Kalau orang terjatuh kedalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya

Nah, pada suatu hari
Ada anak-anak ABG berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang meleking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni
”Kami menolak pagar tebing, apapun bentuknya
Kami menuntut kebebasan sebebbas-bebasnya
Bermain, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berkejar-kejaran tak ada batasnya
”Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kemerdekaan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!”

Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, ini ada apa
Kok jadi tegang suasana
Barulah situasi jadi agak reda, karena
Ternyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta
”Saudara-saudara, ABG-ABG ini jangan dicerca
Mereka punya kelainan dalam instrumen mata
Banyak yang rabun, mungkin juga buta
Kena virus datang dari kota, luar desa kita
Konsep tebing dan jurang, tak masuk akal mereka
Tak tampak bahaya kedua-duanya
Beritahu mereka baik-baik, sabar-sabar senantiasa
Masih banyak urusan lain di desa kita.” (2008)

4 comments:

Anonymous said...

saya bukannya tidak mau meninggalkan identitas , saya laki-laki yang akan takut akan fitnah .

lebih baik begini saja , mungkin di mata Allah akan lebih selamat.

jangankan memandang perempuan , suaranya aja sudah merupakan aurat.
coba lihat muntakhab hadist karangan maulana ilayas al-khandalawi

mumpung aku ada waktu luang ,artikel anti aku akan kasih commen semua, boleh ya

tapi aku bukan berarti merasa lebih baik dari anti .kita niatkan berbagi ilmu aja ...

Anonymous said...

ass wr. wb kapan anti nulis lagi , ,gimana klo nulis tentang bab perempuan ...tapi menurut pandangan islam , ntar aku coment ,

Anonymous said...

anti ..aku punya blog , mw ga komentarin blog sy ,

Anonymous said...

yang lain commentnya tentang cinta semua ya..subhanallah banyak fans juga ya -secara- maaf ya(kmu cantik sih )mudah2an kecantikan fisik km di imbangi kecantikan dalam hati juga , biar orang lain memetik buah akhlak km dengan rasa yang manis .hohoho.. maaf ya ko jadi da'wah ya ,